Studi Kasus Surat –Surat Al-Qur’an Pilihan Sebelum Tidur Di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo

 STUDI KASUS SURAT –SURAT AL-QUR’AN PILIHAN SEBELUM TIDUR DI PONDOK MODERN DARUSSALAM GONTOR, PONOROGO)

Oleh: Sabbrina laila Rosa 

Absract: The analysis used in this study is Karl Mannheims sociology of knowledge, especially on three aspects of meaning: Objective meaning, expressive meaning and documentary meaning. The results of this study are: 1) Objective Meanings, all people believe that the traditions they do are inherited from their predecessors; 2) Meaning of Expression, they believe in fadhilah by reciting Ayat Kursi, Surat Al-Ikhlas, An-Naas Dan Al-Falaq go to sleep can help the body in the grave and, 3) Documentary Meanings, they do not realize the meaning implied or hidden in the tradition, so that the actor or actor does not realize that what he is doing is an expression that shows the culture as a whole. 

 

Keyword: living Qur’an, Prayer, Gontor’s cottage 

 

Abstrak:Pada penelitian ini menggunakan Analisis teori sosiologi pengetahuan Karl Mannheim, yang mencakup pada tiga aspek makna yakni Makna objektif, makna ekspresif dan makna dokumenter. penelitian ini menghasilkan beberapa makna di antaranya, Makna Objektif, yang mana semua santri meyakini bahwa tradisi yang mereka lakukan adalah sebuah aturan yang harus ditaati dan sudah dilakukan dari pada pendahulu mereka, Makna Ekspresi, mereka meyakini fadhilah dengan Membaca Ayat Kursi, Surat Al-Ikhlas, An-Naas Dan Al-Falaq ketika akan tidur di percaya dapat menjaga diri mereka dari gangguan hal-hal buruk selama tidur, Makna Dokumenter, mereka tidak menyadari makna yang tersirat atau tersebunyi di dalam tradisi tersebut, sehingga aktor atau pelaku tindakan tidak menyadari bahwa apa yang dilakukannya itu merupakan suatu ekspresi yang menunjukan kepada kebudayaan pelestarian al-Quran dalam lingkup pesantren. 

 

Kata kunci : Living Qur’an, Do’a, Pondok Gontor 

A. Pendahuluan 

 

Mengkaji fenomena keagamaan berarti mempelajari perilaku manusia dalam kehidupan beragama. Sedangkan fenomena keagamaan itu sendiri adalah perwujudan sikap dan perilaku manusia yang berkaitan dengan hal- hal yang dipandang suci dalam hal ini adalah al-Qur’an. al-Qur’an pada prinsipnya adalah wahyu yang bersifat progresif. Progresifitas al-Qur’an ditunjukkan dengan teks-teks yang senantiasa berdialog dengan konteks masa lalu disaat al-Qur’an diturunkan, masa kini dan juga masa yang akan datang. Sebagai kitab suci umat Islam yang merupakan petunjuk bagi manusia, ia memiliki nama-nama yang beragam. 

Nama-nama yang ada dalam al-Qur’an tidak hanya sebagi keragaman semata namun di dalam nama-nama tersebut terdapat mkna dari al-Qur’an itu sendiri, selain itu al-Quran dapat dijadikan sebuah motivasi. Motivasi bisa berupa ekspresi bacaan al-Qur’an yang bertujuan untuk mencari pahala, sebagai petunjuk teknis dalam kehidupan, ataupun sebagai alat justifikasi terhadap suatu tindakan. Perbedaan praktik pembacaan al- Qur’an tersebut dianggap sebagai sesuatu wajar dan legal. Hal ini disebabkan karena al-Qur’an diperuntukkan bagi manusia untuk menjadi pedoman. 

Al-Qur’an dalam lingkungan pesantren dirasa bukan barang yang asing, bahkan sebagian besar dari pesantren mengkaji al-Qur’an itu sendiri, Baik dalam segi bacaan, pemaknaan ataupun penerapan sehari-hari. Keterkaitan yang sangat kental ini antara pesantren dan al-Qur’an dirasa perlu dikaji dalam rangka menambah pengetahuan mengenai al-Qur’an yang dipahami oleh beberapa pesantren yang ada. 

Pondok pesantren gontor moderen adalah salah satu pondok yang menerapkan al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari mereka, dengan menjadikan bacaan-bacaan al-Qur’an sebagai amalan yang dilakukan sebelum tidur. Hal ini menarik karena al-Qur’an mereka hidupkan dalam aktivitas keseharian mereka tepatnya sebelum tidur. Disini kami akan sedikit melihat pemaknaan-pemaknaan yang terjadi di lingkungn pondok dan hasilnya bagi kehidupan para santri. 

B. Manfaat membaca Ayat Kursi, Surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, An-Nas dan Al-Falaq Ketika Akan Tidur Di Pondok Pesantren Darussalam, Gontor, Ponorogo 

Layout Geografis Pondok Darussalam Gontor Ponorogo 

Pondok pesantran Darussalam gontor atau lebih dikenal dengan pondok modren gontor terletak di desa Gontor Kec. Mlarak Kab. Ponorogo Prov. Jawa Timur. Pondok ini adalah salah satu pondok yang terkenal di daerah ponoroga, yang memilikin cabang di berbagi daerah di indonesia. Selain itu pondok ini juga terkenal dengan penerapan kedisiplinan yang tinggi, Bahasa yang di gunakan dalam pomdok ini adalah bahasa asing baik arab maupun inggris. Jaringan alimni di pondok ini juga sangat kuat. Terbukti dengan mengikutsertakan para alumni dalam setiap kegiatan yang ada di pondok. 

Pondok ini didirakan pada tanggal 20 September 1926 bertepatan dengan 12 Rabi’ul Awwal 1345, pada awal mula pendirian pondok ini masyarakat sekitar memberikan tanggapan yang positif, dengan adanya pondok sistem perekonomian masyarakat menjadi lebih baik. Para masyarakat juga di libatkan dalam beberapa kegiatan yang ada di pondok, salah satunya pada saat bulan ramadhan diadakan acara buka bersama masyarakat sekitar. Selain itu di pondok ini juga memperkerjakan masyarakat sekitar seperti juru masak, tambal sulam tukang dan lain lain. Dalam segi sosial kiranya pondok ini juga ikut membantu kesejahteraan masyarakat sekitar dengan memberikan bantuan bagi mereka yang kurang mampu. Pada mulanya para santri yang menimba ilmu di pondok ini juga ada yang tidak mukim dari masyarakat sekitar. Namun pad tahun 2008 dari pondok memberikan peraturan baru, yang mana diwajibkan kepada santri untuk mukim. 

 

Deskripsi Tradisi 

 

Tradisi membaca ayat kursi ,surat al-ikhlas, an-nas dan al-falaq yang sudah ada di pondok pesantren modern Darussalam gontor sejak awal kemunculanya, selain itu tradisi ini adalah salah satu peraturan pondok yang harus ditaati oleh segenap santri. pengasuh pondok membiasakan para santri dalam membaca do’a sebelum tidur bermaksud sebagai sunnah dari Nabi SAW. cara membacanya pun bisa dikatakan unik, yang mana ketika pukul 21.45 semua santri wajib keluar kamar dan berkumpul di depan kamar membentuk barisan dan duduk bersama. Pada pukul 10.00 santri bersama-sama membaca surat al-fatihah, ayatkursi, al ikhlas, al-falaq dan an-nas lalu membaca doa sebelum tidur dan membaca doa untuk orang tua. 

Pada mulanya, pembaacaan ini hanya dilakukan secara personal sebagai bentuk pelatihan dan pendidikan. Karena dirasa hal itu, perlu dilatih sebagai bentuk pembiasaan. Karena berada dilakukan dalam lingkungan Pondok Pesantren. Maka, penerapannya dilakukan secara bersama-sama dan terus menerus hingga saat ini. 

Pemaknaan dalam hal ini bermaksud sebagai do’a yang 

dipanjatkan kepada sang pencipta agar pada saat nanti tidur terhindar dari berbagai macam gangguan setan dan hal-hal yang buruk. Karena pada saat kita tidur akan banyak hal yang akan dihadapi baik dalam hal mimpi atupun ganguan dari alam lain, hal ini sudah menjadi kepercayaan bagi para santri Gontor bahwanya membaca bacaan tersebut akan mendapatkan perlindungan dari sang pencipta. 

Pemilihan bacaan al-Qur’an ini bukan dilihat dari segi arti dan turunnya, namun pemilihan ini lebih pada ayatnya yang tidak terlalu banyak. Karena, jika kita memilih surat-surat dengan ayat yang panjang akan ditakutkan lamanya dalam pembacaannya dan menghabiskan waktu yang lama. Selain itu para santri juga diberikan pembelajan bahwa membaca do’a sebelum tidur itu, perlindungan terhadap gangguan hal-hal ghaib ketika tidur, mungkin doa terakhir ketika hidup sebab tidak pernah diketahui hal setelah tidur dan membaca doa adalah pahala. 

Seiring berkembanganya zaman dan semakin majunya teknologi, di takutkan terdapat beberapa pergeseran yang terjadi dari beberapa nilainilai agama yang membudaya. Pelestarian yang dilakukan oleh pondok ini adalah salah satu bentuk penjagaan nilai-nilai agama yang menjadi tradisi dalam pembacaan-pembacaan ayat-ayat al-Qur’an. 

Praktek yang dilakukan memperlihatkan bagaimana sebuah nilai keagamaan yang ingin disampaikan kepada para santri, melalui media pembacaan surat al-Qur’an sebelum tidur. Hal ini sudah terjadi sejak pondok berdiri dan sampai saat ini pun hal itu terus dilakukan. Penerapan yang di lakukan pada kenyataanya memiliki nilai keistiqomahan yang ingin ditanamkan kepada para santri, bukan hanya dalam hal membaca doa sebelum tidur, namun hal ini juga diharapkan dalam hal-hal baik lainya. 

3. Literatur Turast: Legalisasi Tradisi 

 

Pelaksannan tradisi ini memang tidak terlepas dari teks al- Qur’an sebagai bacaanya. Melihat lebih dalam lagi pemaknaan ini bukan hany pada penjagaan diri. selain itu, pondok mempercayai sebuah hadits yang menerangkan hal tersebut.pada hadits riwayat bukhori yang artinya : 

Nabi SAW ketika berada di tempat tidur di setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangan lalu kedua telapak tangan tersebut di tiupkan dan di bacakan surat al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Naas, kemudian beliau mengusapkan tangan tadi kepada anggota tubuh yang mampu di jangkau dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali (HR.Bukhori no.5017). 

Selain itu juga terdapat hadits lain yang menerangkan tentang fadhillah bacaan al-Qur’an sebelum tidur, seperti pada hadits yang artinya : 

Jika kamu hendak berbaring di tempat tidur, bacalah ayat kursi karena dengannya kamu selalu dijaga oleh allah ta’ala dan setan tidak akan dapat mendekatimu sampai pagi. (HR.Bukhori no.3275) 

Pada hadits diatas menerangkan faidah dari ayat kursi dan surat al-ikhlas,al-falaq dan an-nas> ketika di baca pada saat sebelum tidur di percaya akan menghindarkan kita dari gangguan setan dan kita akan di jaga sampai pagi harinya lagi. 

Bahwa ada sekelompok sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dahulu berada dalam perjalanan safar, lalu melewati suatu kampung Arab. Kala itu, mereka meminta untuk dijamu, namun penduduk kampung tersebut enggan untuk menjamu. Penduduk kampung tersebut lantasberkata kepada para sahabat yang mampir, ‚Apakah di antara kalian ada yang bias meruqyah karena pembesar kampung tersebut tersengat binatang atau terserang demam.‛ Di antara para sahabat lantas berkata, ‚Iya ada.‛ Lalu iapun mendatangi pembesar kampung tersebut dan ia meruqyahnya dengan membaca surat Al- Fatihah. Maka pembesar kampung itupun sembuh. Lalu yang membacakan ruqyah tadi diberikan seekor kambing, namun ia enggan menerimanya, -dan disebutkan- ia mau menerima sampai kisah tadi diceritakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan kisahnya tadi kepada beliau. Ia berkata, ‚Wahai Rasulullah, aku tidaklah meruqyah kecuali dengan membaca surat Al-Fatihah.‛ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lantas tersenyum dan berkata, ‚Bagaimana engkau bias tahu Al-Fatihah adalah ruqyah?‛ Beliaupun bersabda, 

‚Ambil kambing tersebut dari mereka dan potongkan untukku sebagiannya bersama kalian‛ (HR. Bukhari dan Muslim). 

Pada hadits di atas menerangkan mengenai bagai mana fadhillah dari al fatihah itu sendiri. Pada hadits di atas dijelaskan bagaimana al- fatihah dapat menyembuhkan penyakit. Pada penjelasan beberapa hadits di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwasanya pemaknaan yang dilakukan juga merujuk kepada hadits nabi SAW. Mengingat sunnah adalah sumber hukum ke dua setelah al-Qur’an. Informasi yang di sajikan kepada santri juga mencantumkan hadits dalam penjelasannya. 

Melihat hadits sebagai sumber rujukan al-Qur’an menempatkanya sebai penjelas. Memahami hadits secara kontekstual dirasa penting agar sebagai pembaca hadits kita dapat memahami maknanya . kontekstual disini kita mengambila pemahaman dengan melihat keterkaitan dengan masa sekarang, selain itu kita juga akan mengenai ilmu asba>bul wurut, hal ini dilakukan agar dapat mengungkap makan atau kandungan yang ada dalam hadits. Agar dapat terssalur secara tepat manfaat dan kandungan hadits. 

C. Manfaat membaca Ayat Kursi, Surat Al-Fatihah, Al-Ikhlas, An-Nas dan Al-Falaq Ketika Akan Tidur : Kajian Sosiologi Pengetahuan Karl Mannheim 

 Dari pembahasn di atas mengenai membaca surat al-fatihah, al- ikhlas, an-nas dan al-falaq ketika akan tidur maka penulis akan menganalisis dengan teori Sosiologi Pengetahuan Karl Mannheim, yang difokuskan pada tiga titik pokok, yaitu: Makna Objektif, Makna Eksprasif dan Makna Dokumenter. Adapun pengaplikasian satu persatu dari tiga poin tersebut adalah: 

Makna Objektif 

Makna Objektif adalah makna yang berlaku universal dan diketahui secara universal. Maka pemaknaan dari tradisi membaca ayat kursi, surat alfatihah, al-ikhlas, an-nas dan al-falaq ketika akan tidur adalah sebuah kegiatan yang ditanamkan kepada para santri yang di harapkan akan menjadi sebuah kebiasaan yang dapat dilakukan secara istiqomah. Yang mana menjadi kepercayaan para santri jiaka membaca ayat kursi, surat al- fatihah, al-ikhlas, an-nas dan al-falaq ketika akan tidur akan di jaga sanpai bangun pagi hari lagi dan dijauhkan dari gangguan setan serta melestarikan sunnah Nabi SAW. 

Makna Ekspresif 

Makna ekspresif adalah makna yang diresepsi secara personal dari orang-orang yang terintegrasi dalam tradis membaca ayat kursi, surat al- fatihah, al-ikhlas, an-nas dan al-falaq. Dan Karl Mannheim menyebutnya juga dengan aktor tindakan atau pelaku tindakan sosial dalam hal ini para santri adalah aktor atau pelaku pelaksannan. Di mana dari setiap santri sudah di berikan pemahan yang sama mengenai bagaimana manfaat dari mambaca ayat kursi, surat al-fatihah, al-ikhlas, an-nas dan al-falaq ketika akan tidur. 

Dari keadaaan di atas bahwasnya dapat di tarik kesimpulan pemahaman yang didapatkan oleh para santri adalah bentuk ilmu pengetahuan yang diberikan secara bersamman, dan memiliki tujuan dan manfaat yang sama. 

Makna Dokumenter 

Makna dokumenter adalah makna yang tersirat atau tersembunyi, sehingga aktor atau pelaku tindakan tidak menyadari bahwa apa yang dilakukannya itu merupakan suatu ekspresi yang menunjukan kepada kebudayaan secara keseluruhan dokumenter ini diperoleh dari analisa yang mendalam yang dikaitkan dengan ekstra teoritis. Para pelaku tindakan atau aktor dari tradisi tersebut tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan mambaca ayat kursi, surat al-fatihah, al-ikhlas, an-nas dan al-falaq ketika akan tidur merupakan bagian dari makna menghidupkan al-Qur’an dalam lingkungan pondok pesantren yang menimbulkan tiga resepsi terhadap masyarakat : Pertama, sebagai tradisi material, yaitu suatu keadaan di mana para santrit hanya menganggap bahwa tradisi tersebut merupakan wujud tradisi dan aturan yang telah ada dan wajib dilakukan. Kedua, tradisi religius atau praktik keberagamaan, yaitu para santri yang menerima suatu keadaan apa yang mereka lakukan termasuk dalam cara beragamanya dilihat dari praktik keberagamaan. Ketiga, tradisi simbolis, yaitu para santri menganggap bahwa apa yang mereka lakukan makna yang sesuai dengan lokus yang melingkupnya. 

Hal itu merupakan bentuk representasi dari ketiga resepsi yang timbul dilingkungan pondok pesantren. Pada resepsi pertama (tradisi material), menunjukkan bahwa tradisi dianggap sebagai suatu yang telah mengakar di lingkungan mereka yang dilakukan sejak berdirinya pondok oleh para santri-santri terdahulu. Sebagai praktik keberagamaan, yaitu santri melihat bahwa tradisi tersebut merupakan bentuk praktik umat beragama dengan mengambil manfaat dari tradisi tersebut seperti mambaca ayat kursi, surat al-fatihah, al-ikhlas, an-nas dan al-falaq. Kemudian terakhir, sebagai tradisi simbolis, yaitu santri menganggap bahwa dengan asbab dibacakan mambaca ayat kursi, surat al-fatihah, al-ikhlas, an-nas dan al-falaq ketika akan tidur, maka mereka akan di jaga oleh sang pencipta dari gangguan-gangguan yang ada. 

Menurut Ust. Zidni Athoilah kegiatan yang yang dilakukan di pesantren ini tidak di tulis sebagi sebuah peraturan secara tertulis, namun ke istiqomahan yang telah dilakukan dari dahulu menjadikan kegiatan ini tetap ditaati oleh para santri sebagai sebuah peraturan yang wajib dilakukan. Karena dari pengamalan yang dilakukan ini dari setiap santri diberikan pengetahuan mengenai bagai mana manfaat yang sangat penting dari membaca doa sebelum tidur ini.10 Dalam hal ini dapat dilihat bagaiman ketaatan yang sudah melekat pada santri pondok modern Darussalam Gontor begitu melekat di hati mereka tanpa suatu atauran yang tertulis mereka kompak melakukan peraturan tersebut. 

Jika kita bidik dengan teori, Max Waber mengidentifikasi ada tiga tipe otoritas agen dalam Nuruddin (2018), yaitu : otoritas tradisional, otoritas kharismatik dan otoritas legalrasional. Otoritas tradisional adalah tipe agensi yang keabsahannya besandar pada adat istiadat. Otoritas kharismatik adalah tipe agensi yang disandarkan pada aspek kharisma atau kualitas istimewa seseorang, serta pengakauan orang lain terhadap kharisma tersebut, sedangkan otoritas legal-rasional adalah kekuatan serta keabsahan agensi yang ditumpukan pada legalitas atau aturan resmi, yakni kepercayaan pada prosedur. Jika melihat kedalam teori weber dapat dilihat bahwasanya tradisi di pesantren ini masuk kepada legalrasional, yangmana pembacaan doa sebelum tidur ini adalah salah satu adatistiadat yang sudah ada di pondik ini dari saat pondok berdiri dan sampai saat ini masih dilakukan dengan baik. 

Sebuah tradisi pada umumnya memang sangat dipegang teguh oleh para lingkungan dimana tradisi itu lahir. Hal itu juga terjadi di pondok modern Darussalam gontor ini, kekonsistenan rutinan membaca doa sebelum tidur yang masih di lakukan oleh para santri. 

 

D. Proses Transmisi Tradisi 

 

Pemaknaan mengenai menebaca surat Al-Fatihah, Ayat Kursi, Al Ikhlas, Al-Falaq dan An -Naas sudah banyak kita dapatkan dalam penjelasan hadits nabi. Namun apakah yang dilakukan oleh pondok modern Darussalam Gontor ini sama dengan penjelasan hadits-hadits yang ada. Perlu dirasa melihat bagaiaman kesinambungan antara keduanya. 

Ayat Kursi 

Pada ayat Kursi banyak sekali hadits yang menjelaskan mengenai ayat ini, selain itu juga banyak cerita yang hadir melatarbelakangi ayat ini. 

Seperti pada sebuah hadis diceritakan bahwa sahabat mulia Abu Hurairah pernah mendapat pengajaran ilmu dari setan, Dia pernah diajarkan ayat kursi dan diberitahukan manfaatnya oleh setan bahwa dengan membaca ayat kursi sebelum tidur, Allah akan memberikan penjagaan dan setan pun tidak mengganggu hingga pagi hari. Selain itu juga ada cerita di sebuah masjid yang mana di situ setan menyamar menjadi salah satu orang dan dia mencuri uang kotak amal, kemudian ada salah satu sahabat yang mengetahui bah itu adalah setan, singkat cerita di situ setan menyuruh untuk membaca ayat kursi dan dia tidak akan dapat menggangu. 

Pada ayat kursi ini kesimpulan dari beberapa cerita yang ada, bahwasanya kapan pun membaca ayat kursi ini allah akan melindungi kita dari ganguan setan. Jika kita tarik pada pengamalan yang ada di pondok modern Darussalam Gontor mereka juga melakukanya agar selama tidur di jaga dari gangguan setan. Pemaknaan yang ada masih mengacu kepada hadits dan pada zaman Nabi SAW pun beliau juga melakukan hal tersebut ketika hendak tidur. 

Al- Fatihah 

Pada surat Al-Fatihah banyak hadits yang menerangkan mengenail surat ini, Pada beberapa penjelasan hadits diceritakan surat al-Fatihah ini sangat berkhasiat dalam menyembuhkan penyakit. Penyakit dalam hal ini memiliki cakupan yang sangat luas. Dari salah satu hadits menjelaskan bahwa surat ini dapat menyembuhkan penyakit hati seperti iri, sombong dan dengki. Pada salah satu riwayat hadits juga di katan jika kamuj inggun melakukian ru’yah maka gunakanlah surat al-Fatihah. 

Pada surat al-Fatihah ini dapat kita tarik dua kesimpulan yang petama dapat menyembuhkan segala penyakit baik lahir maupun batin. Yang kedua surat al-Fatihah juga dapat menyembuhkan orang yang kemasukan setan atau jin. Pemaknaan yang di lakukan oleh santri pondok modern Darussalam Gontor kiranya hamper sama dengan ayat kursi itu sendiri, selain itu mereka juga berharap penyakit – penyakit terutama penyakit hati dapat sembuh seiring membaca al-Fatihah secara istiqomah. 

Pemeknaan yang terjadi dalam hal ini masih sam namun hanya saja cara yang di gunakan berbeda. Yang mana pada zaman nabi dibacakan kepada mereka yang sakit pada saat sakit namun di pondok ini pembacaanya dilakukan pada saat ingin tidur. 

Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas 

Pada surat ini banyak hadits yang menerangkan mengenai hal tersebut, seperti bahwa surat-surat ini dapat melindungi pada saat tidur. Pemaknaan yang dilakukan masih sama dalam hal ini. Di mana di harapkan pada saat mereka tidur Allah akan senantiasa menjaga dalam dari hal-hal yang buruk. Pemaknaan masih sama dan juga pelaksannanya sama. 

Dari pemaparan di atas dapat di ambil kesimpulan bgaimana pemaknaan yang di lakukan masih mengikuti bagaimana hadits tersebut di jelaskan, namun ada sedikit beberapa pelaksanaannya yang berbeda. Melihat kegiatan yang demikian menjadikan kita tahu bagaimana sebenarnya setiap kegiatan yang dilakukan masih mengikuti pengadatan pada saat hadits itu diturunkan. 

 

E. Kesimpulan 

Kegiatan membaca Ayat Kursi, Surat Al-Ikhlas, An-Nas Dan , Al- Falaq ketika akan tidur secara bersama-sama oleh para santri gontor ini telah dilakuakn sejak awal mula pendirian pondok pesantren. Setiap santri diberi pemahaman yang sama mengenai manfaat dari dibacanya doa-doa sebelum tidur, selain itu di dalam sebuah hadits juga terdapat manfaat apa dari setiap doa-doa yang di panjatkan. 

Namun, secara khusus santri tidak sadar bahwasnya dengan melakukan kegiatan tersebut dia telah melakukan penghidupan al-Qur’an di dalam keseharian mereka. Para santri hanya memaknainya dalam segi hal ibadah dan mengikuti sunnah Nabi SAW. Hal ini sangat baik dilakukan dalam rangka pelestarian terhadap ayat-ayat al-Qur’an dalam penerapan kehidupan sehari-hari. 

Daftar Pustaka 

HR.Bukhori no.5017. HR.Bukhori no.3275. 

Parwanto,Wendi. ‚Kajian Living Al-Hadits Atas Tradisi Shalat Berjama’ah Mahgrib-Isya` Di Rumah Duka 7 Hari Di Dusun Nuguk, Melawi, Kalimantan Barat Al-Hikmah‛ Jurnal Dakwah, Vol. 12, No. 1, 2018. 

Nuruddin, Nuruddin. "Agama dan Budaya Milineal: Tantangan dan Peluang Prodi Sosiologi Agama di Era Revolusi Industri 4.0." SANGKéP: Jurnal Kajian Sosial Keagamaan 1.2 (2018): 121-131. 

Tasbih, ‚Urgensi Pemahaman Kontekstual Hadits‛ Jurnal Al-Ulm, Vol.16, No. 1, 2016. 

 

Wawancara dengan Al-Ustadz Miftah Hamdani pada Senin, 20 Mei 2019 via chatting dan telepon. 

 

Wawancara dengan Al-Ustadz Romi Gerhard Minggu, 19 Mei 2019 pukul 

13.29 via telepon dan chatting. 

 

Wawancara dengan Iltimas Tsubutul Aqdam Alumni Pondok Gontor dan Mahasiswa Unida Darussalam Gontor pada senin 20 mei 2019 pukul 14.10 via telpon dan chatting. 

 

Wawancara dengan Ust.Zidni Athoilah Gerhard Minggu, 19 Mei 2019 pukul 

14.30 via telepon dan chatting. 

Komentar