Analisis Perilaku Konsumtif

PENDEKATAN AL-QUR’AN DALAM ANALISIS TEORI PRILAKU KONSUMTIF JEAN BAUDRILLARD
(Sabbrina Laila Rosa 3118002)
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
   Setiap orang mempunyai kebutuhan hidup, dan masing-masing orang mempunyai cara yang berbeda-beda untuk memenuhinya. Ada yang memenuhi kebutuhannya secara wajar dan adapula yang berlebihan. Hal tersebut yang menyebabkan seseorang berprilaku konsumtif. Perilaku konsumtif dilakukan oleh semua kalangan bahkan perilaku konsumtif lebih banyak dilakukan oleh para remaja. Ini merupakan hal yang perlu kita ketahui dan pahami agar kita bisa lebih memandang jauh dan lebih sadar akan dampak masalah perilaku konsumtif yang terjadi pada kita ini terutama kalangan remaja.
Produk industri memilih remaja sebagai incaran pemasarannya, karena karakteristik remajalah yang lebih labil dan gampang tergoyahkan sehingga timbul berbagai gejala dalam berprilaku seperti membeli yang tidak wajar. Membeli tidak lagi dilakukan karena produk tersebut memang dibutuhkan, namun membeli dilakukan karena alasan-alasan lain seperti mengikuti mode, hanya ingin mencoba produk baru, ingin mendapatkan pengakuan sosial dan lain sebagainya. Ada sebagian orang tua yang ketika anaknya masih kecil selalu dimanja dan dituruti apa saja yang diinginkan begitu pula tidak sedikit orang tua juga mengajarkan anaknya dari kecil agar apabila membeli sesuatu tidak berlebihan dan hanya sebutuhnya saja.  Begitu pula dalam Islam, Islam mengajarkan kepada kita agar tidah berlebih-lebihan dalam sesuatu hal.  
Selain penanaman perilaku sejak dini agar tidak berlebih-lebihan karena didalam alqur’an juga telah menjelaskannya, dalam sosiologi ilmu bermasyarakat kita juga diajarkan melalui teori Masyarakat konsumtif yang digagas oleh JEAN BAUDRILLARD agar kita lebih memahami bagaimana sebenarnya masyarakat konsumtif itu sendiri. Dari sinilah penulis akan membahas apa yang telah dijelaskan dalam latar belakang ini.
B.  Rumusan Masalah
1.      Apa yang menyebabkan masyarakat berprilaku konsumtif, dan bagaimana cara mengatasinya?
2.      Bagaimana pandangan alqur’an maupun hadis mengenai fenomena prilaku konsumtif ini?
3.      Bagaimana penerapan teori masyarakat konsumtif yang digagas oleh JEAN BAUDRILLARD,?
C. Tujuan
1.      Agar mengetahui penyebab masyarakat konsumtif.
2.      Agar mengetahui landasan agama yang mengenai masalah prilaku konsumtif ini.
3.      Agar mengetahui kaitan antara teori masyarakat konsumtif yang digagas oleh JEAN BAUDRILLARD yang telah dijelaskan dalam Sosiologi. Dan mengetahui pengaplikasian dengan yang terjadi saat ini.
D. Manfaat
1.      Memberi rasa kesadaran kepada para pembaca agar tidak berprilaku konsumtif.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Prilaku Konsumtif
Perilaku adalah apapun yang dikatakan atau dilakukan seseorang.[1] Menurut KBBI, konsumtif artinya bersifat konsumsi (hanya memakai, tidak menghasilkan sendiri).[2] Sedangkan dalam pandangan ekonomi, konsumtif adalah gaya hidup yang mengutamakan keinginan untuk mengonsumsi barang atau jasa secara berlebihan.[3] Menurut Lubis perilaku konsumtif adalah perilaku yang tidak  lagi berdasarkan pada pertimbangan rasional, akan tetapi dikarena adanya keinginan yang sudah mencapai taraf yang sudah tidak rasional lagi.
Sedangkan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia mengatakan bahwa perilaku konsumtif adalah kecenderunagn manusia untuk menggunakan konsumsi tanpa batas dan manusia lebih mementingkan faktor keinginan daripada kebutuhan.[4] Tanda-tandanya seseorang berperilaku konsumtif itu seperti berkehidupan mewah dan berlebihan, penggunaan segala hal yang dianggap mahal yang memberikan kepuasan dan kenyamanan fisik sebesar-besarnya serta adanya pola hidup manusia yang dikendalikan dan di dorong oleh semua keinginan untuk memnuhi hasrat kesenangan semata-mata.[5]
Sedangkan Anggasari mengatakan perilaku konsumtif adalah tindakan membeli barang- barang yag kurang atau tidak diperhitungkan sehingga sifatnya berlebihan.[6] Dari uraian di atas, pengertian perilaku konsumtif merupakan suatu perilaku membeli dan menggunakan barang yang tidak didasarkan pada pertimbangan yang rasional dan memiliki kencenderungan untuk mengkonsumsi sesuatu tanpa batas dimana individu lebih mementingkan faktor keinginan dari pada kebutuhan serta ditandai oleh adanya kehidupan mewah dan berlebihan, pengunaan segala hal yang paling mewah yang memberikan kepuasan dan kenyamanan fisik.
B.     Penyebab perilaku konsumtif dan cara mengatasinya
Manusia sebagai makhluk ekonomi memiliki beberapa gaya konsumtif dikarenakan adanya faktor-faktor yang mempengaruhinya, berikut beberapa faktor yang mempengaruhi masyarakat sehingga berprilaku konsumtif: berikut ini adalah faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang berperilaku konsumtif:[7]
a.       Faktor Internal
Faktor internal yang berpengaruh pada perilaku konsumtif individu adalah motivasi, harga diri, observasi, proses belajar, kepribadian dan konsep diri.
b.      Faktor Eksternal
Faktor eksternal yang berpengaruh pada perilaku konsumtif individu adalah kebudayaaan, kelas sosial, kelompok- kelompok sosial dan referensi serta keluarga.

C.    Dalil tentang perilaku konsumtif
Konsumsi adalah suatu kegiatan penggunaan dan pemanfaatan sumber daya atau barang- barang yang ada atau memanfaatkan anugrah yang telah diberikan Allah kepada manusia. Dalam melakukan konsumsi manusia diberi kebebasan, namun kebebasan itu juga memiliki aturan- aturan yang telah ditetapkan dalam ajaran Islam. Di dalam agama Islam segala perilaku manusia telah diatur dalam Al-Qur’an dan hadits yange bertujua supaya manusia tidak terjerumus kedalam hal yang buruk dan merugikan. Al-Qur’an dan hadist bersifat komprehensif dan universal, yang artinya mencakup segala bentuk kehidupan baik sosial maupun spiritual dan juga dapat diterapkan setiap waktu dan tempat.[8]
Dalam hal konsumtif pun, Islam mengajarkan kepada kita agar sederhana, tidak berlebihan, tidak boros, dan tidak kekurangan karena pemborosan adalah saudara-saudara setan. Seperti yang tertera dalam Firman Allah SWT dibawah ini:
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
Artinya : Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara- saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS.Al-Isro’ ayat 27)

Perilaku konsumtif merupakan masalah psikologis yang dikenal dengan compulsive buying disorder atau kecanduan belanja. penderitanya tidak dapat membedakan antara kebutuhan dan juga keinginan. Dalam agama Islam dalam berkonsumsi diterangkan bahwa yang barang yang baik haruslah halal, baik, bergizi, tidak kotor, tidak mengandung riba dan lainnya. Sedangkan dalam berkonsumsi tidak berlebih-lebihan, tidak juga bermewah-mewahan.[9]
رسول ﷲ صلى ﷲ عليه وسلم يقول مأ ملأ آدمي لقيما ت يقمن صلبه فإن غلبت الآدمينفسه فثلث للطعا م و ثلث  للنفس .
Artinya: Rasulullah SAW bersabda: “anak adam tidak mengisi penuh wadah yang lebih jelek dari perut, cukuplah bagi merek itu beberapa suap makan yang dapa menegakan punggungnya, apabila kuat keinginanya maka jadikanlah sepertiga untuk makan, sepertiga untuk mium, sepertiga untuk dirinya atau udara”[10]

Hadits tersebut menjelaskan bahwa manusia harus memberi ruang dalam dirinya, tidak selalu harus memenuhi segala keinginanya. Menurut Yusuf Qardawi menyebutkan beberapa variabel moral konsumsi, diantaranya konsumsinitas alasan atas barang-barang yang baik atau  halal, berhemat dan tidak bermewah-mewahan, menjauhi hutang, dan menjauhi kebakhilan.20 Yusuf al-Qardawi berpendapat bahwa seorang muslim tidak bebas membelanjakan hartanya secara berlebihan. Didalam Al-qur‟an dijelaskan tentang batasan-batasan perilaku konsumtif yang tertera pada surat  al-Furqaan ayat 67.
وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
Artinya: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian  (al-Furqan ayat 67)
Dan juga hadits riwayat muslim yang menjelaskan tentang konsumtif 
 .كثير من رة ذ ل مثقا قلبه في  كان من الجنة لايدخل
Artinya: termasuk berlebihan adalah ketika kamu makan semua yang kamu inginkan (HR. Imam Muslim)

Perilaku konsumtif selain dilarang oleh agama juga memiliki beberapa dampak bagi pelakunya seperti:
a.         Menimbulkan kecemburuan sosial antar masyarakat
b.        Membuat keuangan semakin menipis
c.         Mempersempit keinginn untuk menabung sehingga orang tidak berfikir akan masa depan memikirkan masa yang akan datang 
d.        Membuat orang hanya meikirkan dirinya sendiri dan tidak melihat kehidupan orang lain karena sibuk memikirkan keinginanya.
Yusuf al-Qardawi juga menjelaskan bahwa seseorang yang dekat dengan agama maka seseorang tersebut dapat terhindar dari perilaku yang tercela seperti salah satunya perilaku konsumtif.[11]
D.    Teori masyarakat konsumtif yang digagas oleh JEAN BAUDRILLARD dan Analisis  fenomena masyarakat konsumtif saat ini

1.      RIWAYAT  HIDUP  JEANBAUDRILLARD
   Jean  Baudrillard  adalah seorang  pakar dalam teori  kebudayaan, beliau juga  seorang filosof, komentator  politik, sosiolog,  dan  fotografer kali  dikaitkan  dengan  post  modernisme dan post  strukturalisme. Baudrillard  lahir  dalam keluarga  miskin  di  Reims,  20  Juni  1929.  Ia seorang  anak  pegawai  sipil  dan  cucu  lelaki dari  seorang  petani.  Ia  mempelajari  Bahasa Jerman  di Universitas  Sorbonne  di  Paris  dan mengajar bahasa Jerman di sebuah licee (1958-1966). Ia juga pernah menjadi penerjemah danterus  melanjutkan  pendidikannya  dalambidang filsafat dan sosiologi.
   Pada tahun 1966 ia menyelesaikan tesis Ph.D-nya Le Systeme desobjets (“Sistem Objek-objek”) di bawah arahan Henri Lefebvre.  Dari  tahun 1966  hingga  1972 ia  bekerja  sebagai  Asisten  Profesor  dan Profesor.  Pada  tahun  1972  ia  menyelesaikan habilitasinya L`Autre  par  luimeme dan  mulai mengajar  sosiologi  di  Universite  de  Paris-X Nanterre sebagai professor.
   Dari  tahun  1986  hingga  1990  Baudrillard menjabat  sebagai  Direktur  Ilmiah  di  IRIS(Institut de Recherche et d`Information Socio-Economique)  di  Universite  de  Paris-IXDauphine. Ia tetap memberikan dukungannya bagi  Institut de  Recherche  sur  I`Innovation Sociale  di  Center  National  de  la  Recherche Scientifique dan merupakan seorang satrap di College  de  Pataphysique  hingga  meninggal dunia.  Beliau  wafat  di  Paris,  6  Maret  2007.[12]
   Dalam hal pemikirannya, ia  dipengaruhi oleh Marshall  Mc Luhan  yang  memperlihatkan pentingnya  media  massa  dalam  pandangankaum  sosiologis.  Karena  dipengaruhi  oleh semangat  pemberontakan  mahasiswa  di Universitas  Nanterre  (1968),  ia  bekerja  samadengan  suatu  jurnal  yaitu Utopie,  yangdipengaruhi  oleh  anarcho-situationism,  teorimedia  dan  Marxisme  struktural,  di  mana  ia menerbitkan  sejumlah  artikel  teoritis  pada suasana  kemakmuran  kapitalis,  dan  kritik teknologi.
   Pemikiran  Baudrillard  juga  di pengaruhi  oleh pemikiran filsuf lain yang memiliki pemikiran tentang objectivity  and  linguistic-sociologicalinterface (Mauss), Surrealism  and  Eroticism (Bataille), Psychoanalysis dan  Freud,  dan terutama  Marxisme.  Lalu  ia  menjadi  seorangyang  dikagumi  sebagai  seorang  yangmengerti  akan  keadaan  yang  datang  padakondisi posmodernisme.Filosofi Baudrillard terpusat pada dua konsep“hyperreality”  dan  “simulation“.  Terminologiini mengacu pada alam yang  tidak  nyata dankhayal dalam kebudayaan  kontemporer  padazaman  komunikasi  &  informasi  massa.[13]
2.      TEORI SIMULAKRUM, HIPEREALITAS,DAN SEMIOTIKA
   Konsep Baudrillard mengenai simulasi adalah tentang  penciptaan  kenyataan  melalui model konseptual  atau  sesuatu  yang  berhubungan dengan  “mitos”  yang  tidak  dapat  dilihat kebenarannya  dalam  kenyataan. Model  ini menjadi  faktor  penentu  pandangan  kita tentang  kenyataan.  Segala  yang  dapat menarik minat manusia – seperti seni, rumah, kebutuhan rumah tangga dan lain sebagainya– ditayangkan melalui berbagai media dengan model-model  yang  ideal,  di sinilah  batas antara  simulasi  dan  kenyataan  menjad itercampur  aduk  sehingga  menciptakan hyperreality di mana  yang  nyata  dan  yang tidak nyata menjadi tidak jelas.
   Dunia  menurut  Baudrillard,  didominasi  oleh “simulacrum”.  Ini  adalah  konsep  yang diperkenalkan  Jean  Baudrillard  yang mewakili  tiadanya  lagi  batas  antara  yang nyata dengan yang semu. Dunia telah menjadi dunia  imajiner.  Baudrillard  memberikan contoh  Disneyland.  Disneyland  adalah  suatu dunia  imajiner  di mana  segala  sesuatunya bersifat  futuristik, dan mimpi-mimpi. Disneyland  telah  menjadi  bius  bagi sebagian besar  konsumen  kelas  menengah  sehingga selalu dijejali orang sepanjang tahunnya .
   Disneyland  menurut  Baudrillard  merupakan bentuk pemujaan berhala mutakhir. Pemujaan yang  menunjukkan  betapa  irasionalnya perilaku  konsumtif  orang-orang  yang  rela mengantri  berjam-jam,  membayar  puluhan dollar  hanya  untuk  memuaskan  nafsu, insting,  dorongan  dan  impuls.  Kolektivitas yang  muncul  adalah  semu.  Segerombolan orang riang gembira  menikmati kebersamaan mereka. Kemudian  kembali terpecah  menjadi individu-individu  yang  menjemukan  denganr utinitas  yang  itu-itu  saja.  Ini  adalah  sebuah simulakrum.[14]
   Jean  Baudrilard  menggunakan  juga  istilah hiperialitas  untuk  menjelaskan  perekayasaan (dalam  pengertian  distorsi)  makna  di dalam media.  Hiperealitas  komunikasi,  media  dan makna menciptakan  satu  kondisi,  di  mana kesemuanya dianggap  lebih  nyata  dar pada kenyataan,  dan  kepalsuan  dianggap  lebih benar dari pada kebenaran. Isu lebih di percaya ketimbang  informasi,  rumor  dianggap  lebih benar ketimbang  kebenaran. Kita  tidak dapat lagi  membedakan  antara  kebenaran  dan kepalsuan,  antara  isu  dan  realitas. Berkembangnya  hiperealitas  komunikasi  dan media  tidak  terlepas  dari  perkembangan teknologi  yang  telah  berkembang  mencapai teknologi simulasi.[15]
3.      SEMIOTIKA & HIPERSEMIOTIKA
   Ada  terminologi lain  yang  sangat  berkaitan dengan simulacrum ataupun hyperealitas yaitu yang  disebut  dengan  semiotika. Semiotika (semiotics)  adalah  salah  satu  dari  ilmu  yang oleh  beberapa  ahli atau pemikir  dikaitkan dengan  kedustaan,  kebohongan,  dan kepalsuan,  sebuah  teori  dusta.  Jadi,  ada asumsi terhadap teori dusta ini serta beberapa teori  lainnya  yang  sejenis,  yang  dijadikan sebagai  titik  berangkat  dari  sebuah kecenderungan  semiotika,  yang  kemudian disebut  juga  sebagai  hipersemiotika  (hyper-semiotics).
   Dalam  semiotika,  bila  segala  sesuatu  yang dalam  terminologi  semiotika disebut  sebagai tanda  (sign),  semata  alat  untuk  berdusta, maka  setiap  tanda  akan  selalu  mengandungmuatan dusta; setiap makna (meaning)  adalah dusta;  setiap  pengguna  tanda  adalah  para pendusta;  setiap  proses  pertandaan (signification)  adalah  kedustaan.  Dunia hipersemiotika  tidak  dapat  dipisahkan  dari dunia  hiperealitas  yang  dilukiskan  oleh Baudrillard.
   Hiperealitas  menciptakan  satu  kondisi  yang di  dalamnya  kepalsuan  berbaur  dengan keaslian;  masa  lalu  berbaur  masa  kini;  fakta bersimpang  siur  dengan  rekayasa; tanda melebur  dengan  realitas;  dusta  bersenyawa dengan  kebenaran.  Kategori-kategori kebenaran,  kepalsuan,  keaslian,  isu-isu, realitas  seakan-akan  tidak  berlaku  lagi  didalam dunia seperti itu.“Baudrillard  menerima  konsekuensi  radikal tentang  yang  dilihatnya  sebagai  sangat merasuknya kode  dalam  masa modern  akhir. Kode  ini  jelas  terkait  dengan  komputerisasi dan  digitalisasi,  juga  cukup mendasar  dalamFisika, Biologi, dan ilmu-ilmu alam lainnya dimana  ia  memberi  kesempatan berlangsungnya  reproduksi  sempurna  dari suatu objek atau situasi.
    Inilah sebabnya kode bisa  mem-bypass sesuatu  yang  real  dan membuka  kesempatan  bagi  munculnya realitas  yang  disebut  Baudrillard  sebagai hyperreality.”Keadaan  dari  hiperrealitas  ini  membuat masyarakat  modern  ini  menjadi  berlebihan dalam  pola  mengkonsumsi  sesuatu  yang tidak  jelas  esensinya.  Kebanyakan  dari masyarakat  ini  mengkonsumsi  bukan  karena kebutuhan  ekonominya  melainkan  karena pengaruh  model-model  dari  simulasi  yangmenyebabkan  gaya  hidup  masyarakatmenjadi  berbeda.  Mereka  jadi  lebih concern dengan gaya hidupnya dan nilai yang mereka junjung tinggi.
   Industri  mendominasi  banyak  aspek kehidupan,  industri  tersebut  menghasilkan banyak  sekali  produk-produk  mulai  dari kebutuhan  primer,  sekunder,  sampai  tertier. Ditemani  oleh kekuatan  semiotika  dan simulasi  membuat  distribusi  periklanan produk  menjadi  lebih  gencar  tambah  lagi teknologi  informasi  yang  memungkinkan pihak  pengusaha  untuk  mendapatkan informasi  seperti  apakah  masyarakat  yang dihadapi, dan pihak konsumen  mendapatkan informasi  tentang  kebutuhan  yang  merekatidak  butuhkan, tetapi  mereka  inginkan. Asumsi-asumsi  yang  terbentuk  dalampemikiran  manusia  dan  keinginan  ini membuat  manusia  tidak  bisa  lepas  dari keadaan hiperrealitas ini.
4.      TEORI SIMULAKRUM DAN INFORMASI
   Dalam  buku  Perpustakaan  dan  informasi dalam  konteks  budaya  tersebut  dijelaskan bahwa  adanya  hubungan  yang  sangat  erat antara  simbol,  data,  informasi,  pengetahuan, dan  kebijaksanaan.  Hubungan  tersebut bersifat  hirarki.  Informasi  merupakan kumpulan  data  terpilih,  terorganisasi,  danteranalisis,  merupakan  hasil  pengolahan  data serta  memberikan  makna  di dalamnya.
   Informasi  yang  dikombinasikan  dengan kemampuan  dan  pengalaman  pemakai  serta digunakan  untuk  memecahkan  sebuah masalah atau menciptakan pengetahuan baru, hasil  informasi  yang  diserap  serta menyebabkan  perubahan  disebut pengetahuan.  Kemudian,  kebijaksanaan (wisdom)  seseorang  akan  memandang  kedepan  dan  berpikir  berlandaskan  nilai  dan komitmen  seseorang.[16]
   Jika kita melihat bahwa hubungan dan hirarki informasi  ini  saling  terkait  satu  sama  lain yang  pada  akhirnya  membentuk  suatu kebijaksanaan.  Kebijaksanaan  tentu  saja didasarkan  pada  nilai-nilai  kebenaran.  Jika informasi  yang  dihasilkan  merupakan informasi  semu,  maka  akan  menghasilkan pengetahuan  yang  semu  pula.  Jika pengetahuan  yang  diproduksi  merupakan pengetahuan  yang  semu,  maka  akan menyebabkan  kebijaksanaan  yang  semu.  Initentu  sangat  berbahaya.  Tidak  akan  ada  lagi kebenaran yang sebenarnya (hakiki).
   Simulakrum  informasi  yang  berlangsung dalam  waktu  yang  lama  hanya  akan menimbulkan  ketidak percayaan  pada informasi  itu  sendiri,  bahkan  pada  setiap informasi.  Di  dalam  situasi  yang  normal, informasi  akan  membawa  kita  pada kebenaran, pada kenyataan. Akan tetapi, kini, melalui  mesin-mesin  simulakra,  informasi justru  menggiring  masyarakat  ke  arah ketidakpastian dan  chaos.  Di  antara  berbagai krisis  kepercayaan  yang  muncul  akhir-akhir ini  salah  satunya  yang  sangat  menonjola dalah krisis kepercayaan terhadap informasi. Informasi  kehilangan  kredibilitas  disebabkan ia  dianggap  tidak  lagi  mengungkapkan kebenaran.
   Angka-angka  statistic pertumbuhan,  nilai  tukar,  inflasi,  GNP, pendapatan  perkapita  yang  hanya  dianggap sebagai  topeng-topeng  kesemuan  yang  tidak menggambarkan  wajah  kita  yang sesungguhnya.  Hilangnya  kepercayaan terhadap  informasi  disebabkan  adanya anggapan,  bahwa  informasi  tersebut  tidak lebih dari sebuah hasil rekayasa, sebuah hasildistorsi tekstual.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
   Sejak dulu hingga sekarang perilaku konsumtif sudah menjadi hal yang melekat pada diri manusia. Itu sudah tidak dapat dipungkiri lagi. Sehubung dengan perkembangan zaman melalui teknologi membuat para konsumtif semakin menjadi jadi.Banyak penyebab yang membuat masyarakat berprilaku konsumtif mulai dari faktor eksternal sampai faktor internal. Perilaku konsumtif  harus kita mulai dari diri sendiri yaitu sadar betapa ruginya jika kita memiliki prilaku konsumtif.
   Banyak kerugian yang kita dapat apabila kita selalu menanamkan prilaku konsumtif pada diri kita. Hanya karna suatu keinginan, nafsu kita buang sia-sia. Dalam Islam  prilaku konsumtif dilarang banyak dalil dan hadis yang memerintahkan agar kita tidak berbuat sesuatu yang berlebih-lebihan apapun bentuknya. Salah satu dalil yang melarang kita berprilaku konsumtif yaitu QS.Al-Isro’ ayat 27. Allah  swt berfirman:
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
Artinya : Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara- saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS.Al-Isro’ ayat 27)

Dan Rasulullah saw juga bersabda:
رسول ﷲ صلى ﷲ عليه وسلم يقول مأ ملأ آدمي لقيما ت يقمن صلبه فإن غلبت الآدمينفسه فثلث للطعا م و ثلث  للنفس .
Artinya: Rasulullah SAW bersabda: “anak adam tidak mengisi penuh wadah yang lebih jelek dari perut, cukuplah bagi merek itu beberapa suap makan yang dapa menegakan punggungnya, apabila kuat keinginanya maka jadikanlah sepertiga untuk makan, sepertiga untuk mium, sepertiga untuk dirinya atau udara”
JEAN BAUDRILLARD membahas teori mengenai perilaku konsumtif. Ada beberapa teori yang ia bahas Teori Simulakrum, Hiperealitas, Dan Semiotika , Semiotika & Hipersemiotika , Teori Simulakrum Dan Informasi. Salah satu contoh yang saya ambil dalam makalah ini adalah Disneyland. Dari sinilah kita bisa memiliki pandangan apa yang seharusnya kita lakukan mulai saat ini.
DAFTAR PUSTAKA
Adian, D. G. (2002). Menyoal Objektivisme IlmuPengetahuan. Jakarta: Teraju
Anggasari R.E. Hubungan tingkat Religiusitas dengan Perilaku Konsumtif. Jurnal Psikologi no.4 th II Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.
Aprillins. Jean  BaudrillardTentang  Simulacra  dan  Hiperrealitas.http://aprillins.com.  Retrieved November  8,  2014,  fromhttp://aprillins.com/2009/577/jean-baudrillard-tentang-simulacra-dan-hiperrealitas/
Basuki, Sulistyo. (2006). Perpustakaan  &Informasi dalam Konteks Budaya. Depok:FIB UI.
Baudrillard, Jean.    www.wikipedia.org.  Retrieved November  8,  2014, fromhttp://en.wikipedia.org/wiki/Jean_Baudrillard
Butarbutar, Sam Oliver 2008. Perbedaan Perilaku Konsumtif Mahasiswa yang Berkepribadian Introvet dengan Mahasiswa Berkepribadian Ekstrovert, Fakultas psikologi, UGM.
Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Martin, Garry. Joseph Pear, Modifikasi Perilaku, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Muhammad Ismail Yusanto dan Muhammad Karebet Widjaja kusuma. 2002. Menggagas Bisnis Islami, Gema Nusantara, Jakarata.
Mukhtarom, Imam. Pemahaman Yusuf Al-Qardawi Terhadap Hadis- hadis tentang Perilaku konsumtif, skripsi.  jurusan Ilmu Al-Qur‟an dan Tafsir Universitas Islam Negeri Sunan Klaijaga.
Mukhtarom, Imam. Pemahaman Yusuf Al-Qardawi Terhadap Hadis-hadis tentang Perilaku konsumtif, skrips.  jurusan Ilmu Al-Qur‟an dan Tafsir Universitas Islam Negeri Sunan Klaijaga.
Nurdiana, Ilfi. M.Si.  Hadits-hdaits Ekonomi. UIN Malang Press, Malang.
Piliang,  Y.  A. 2001. Sebuah  Dunia  yangMenakutkan. Bandung: Mizan.
Qardawi,Yusuf .1995.Peran Nilai Moral dalam Perekonomian Islam. Rabbani Press. Jakarta.
Sumartono. 2002. Terperangkap Dalam Iklan, Alfabeta. Bandung.
Yustisi Sari, Tiuma. 2009 Hubungan Antara Perilaku Konsumtif dengan Body Image pada Remaja Putri, Fakultas Psikologi UGM .





[1] Garry Martin, Joseph Pear, Modifikasi Perilaku, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2015, hlm. 3
[2] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008, hlm 278.
[3] Muhammad Ismail Yusanto dan Muhammad Karebet Widjaja kusuma, Menggagas Bisnis Islami, Gema Nusantara, Jakarata, 2002, hlm 58.
[4] Sam Oliver Butarbutar, Perbedaan Perilaku Konsumtif Mahasiswa yang Berkepribadian Introvet dengan Mahasiswa Berkepribadian Ekstrovert, Fakultas psikologi, UGM 2008, hlm 15.
[5] Tiuma Yustisi Sari, Hubungan Antara Perilaku Konsumtif dengan Body Image pada Remaja Putri, Fakultas Psikologi UGM  2009, hlm 21.
[6] Anggasari R.E, Hubungan tingkat Religiusitas dengan Perilaku Konsumtif. Jurnal Psikologi no.4 th II Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM, hlm 10.
[7] Sumartono, Terperangkap Dalam Iklan, Alfabeta, Bandung, 2002, hlm 63.
[8] Imam Mukhtarom, Pemahaman Yusuf Al-Qardawi Terhadap Hadis-hadis tentang Perilaku konsumtif, skripsi,  jurusan Ilmu Al-Qur‟an dan Tafsir Universitas Islam Negeri Sunan Klaijaga, hlm 71
[9] Ibid.  hlm 71
[10] Ilfi Nurdiana, M.Si, Hadits-hdaits Ekonomi, UIN Malang Press, Malang, 2008. hal. 59
20 Yusuf Qardawi, Peran Nilai Moral dalam Perekonomian Islam, Rabbani Press, Jakarta, 1995, hlm 3.
[11] Imam Mukhtarom, Pemahaman Yusuf Al-Qardawi Terhadap Hadis- hadis tentang Perilaku konsumtif, skripsi,  jurusan Ilmu Al-Qur‟an dan Tafsir Universitas Islam Negeri Sunan Klaijaga, hlm. 54                      
[12]Jean  Baudrillard, www.wikipedia.org.  Retrieved November  8,  2014, from http://en.wikipedia.org/wiki/Jean_Baudrillard
[13] Aprillins,  (2009,  May  10).  Jean  BaudrillardTentang  Simulacra  dan  Hiperrealitas.http://aprillins.com.  Retrieved November  8,  2014,  fromhttp://aprillins.com/2009/577/jean-baudrillard-tentang-simulacra-dan-hiperrealitas/
[14] D. G. Menyoal Adian,  Objektivisme IlmuPengetahuan,  (Jakarta: Teraju, 2002), hlm 15-16
[15] Y.  A.  Piliang, Sebuah  Dunia  yangMenakutkan, (Bandung: Mizan,2001), hlm 150
[16] Sulistyo Basuki, Perpustakaan  &Informasi dalam Konteks Budaya,  (Depok : FIB UI, 2006), hlm 6

Komentar