Analisis Perilaku Konsumtif
PENDEKATAN AL-QUR’AN DALAM ANALISIS TEORI PRILAKU KONSUMTIF JEAN
BAUDRILLARD
(Sabbrina Laila Rosa 3118002)
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Setiap
orang mempunyai kebutuhan hidup, dan masing-masing orang mempunyai cara yang
berbeda-beda untuk memenuhinya. Ada yang memenuhi kebutuhannya secara wajar dan
adapula yang berlebihan. Hal tersebut yang menyebabkan seseorang berprilaku
konsumtif. Perilaku konsumtif dilakukan oleh semua kalangan bahkan perilaku
konsumtif lebih banyak dilakukan oleh para remaja. Ini merupakan hal yang perlu
kita ketahui dan pahami agar kita bisa lebih memandang jauh dan lebih sadar
akan dampak masalah perilaku konsumtif yang terjadi pada kita ini terutama
kalangan remaja.
Produk industri memilih remaja sebagai incaran pemasarannya, karena
karakteristik remajalah yang lebih labil dan gampang tergoyahkan sehingga timbul
berbagai gejala dalam berprilaku seperti membeli yang tidak wajar. Membeli
tidak lagi dilakukan karena produk tersebut memang dibutuhkan, namun membeli
dilakukan karena alasan-alasan lain seperti mengikuti mode, hanya ingin mencoba
produk baru, ingin mendapatkan pengakuan sosial dan lain sebagainya. Ada
sebagian orang tua yang ketika anaknya masih kecil selalu dimanja dan dituruti
apa saja yang diinginkan begitu pula tidak sedikit orang tua juga mengajarkan
anaknya dari kecil agar apabila membeli sesuatu tidak berlebihan dan hanya
sebutuhnya saja. Begitu pula dalam Islam,
Islam mengajarkan kepada kita agar tidah berlebih-lebihan dalam sesuatu hal.
Selain penanaman perilaku sejak dini agar tidak berlebih-lebihan karena
didalam alqur’an juga telah menjelaskannya, dalam sosiologi ilmu bermasyarakat
kita juga diajarkan melalui teori Masyarakat konsumtif yang digagas oleh JEAN
BAUDRILLARD agar kita lebih memahami bagaimana sebenarnya masyarakat konsumtif
itu sendiri. Dari sinilah penulis akan membahas apa yang telah dijelaskan dalam
latar belakang ini.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang menyebabkan masyarakat berprilaku konsumtif, dan bagaimana cara
mengatasinya?
2. Bagaimana pandangan alqur’an maupun hadis mengenai fenomena prilaku
konsumtif ini?
3. Bagaimana penerapan teori masyarakat konsumtif yang digagas oleh JEAN
BAUDRILLARD,?
C. Tujuan
1. Agar mengetahui penyebab masyarakat konsumtif.
2. Agar mengetahui landasan agama yang mengenai masalah prilaku konsumtif ini.
3. Agar mengetahui kaitan antara teori masyarakat konsumtif yang digagas oleh
JEAN BAUDRILLARD yang telah dijelaskan dalam Sosiologi. Dan mengetahui
pengaplikasian dengan yang terjadi saat ini.
D. Manfaat
1. Memberi rasa kesadaran kepada para pembaca agar tidak berprilaku konsumtif.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Prilaku Konsumtif
Perilaku adalah
apapun yang dikatakan atau dilakukan seseorang.[1] Menurut
KBBI,
konsumtif artinya bersifat konsumsi (hanya memakai, tidak menghasilkan
sendiri).[2]
Sedangkan dalam pandangan ekonomi, konsumtif
adalah gaya hidup yang mengutamakan keinginan untuk mengonsumsi barang atau
jasa secara berlebihan.[3]
Menurut Lubis perilaku konsumtif adalah perilaku yang tidak lagi berdasarkan pada pertimbangan rasional, akan tetapi dikarena adanya keinginan yang sudah mencapai taraf yang sudah tidak
rasional lagi.
Sedangkan
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia mengatakan bahwa perilaku
konsumtif adalah kecenderunagn manusia untuk menggunakan konsumsi tanpa batas
dan manusia lebih mementingkan faktor keinginan daripada kebutuhan.[4]
Tanda-tandanya seseorang berperilaku konsumtif itu seperti berkehidupan
mewah dan berlebihan, penggunaan segala hal yang dianggap mahal yang memberikan
kepuasan dan kenyamanan fisik sebesar-besarnya serta adanya pola hidup manusia
yang dikendalikan dan di dorong oleh semua keinginan untuk memnuhi hasrat
kesenangan semata-mata.[5]
Sedangkan
Anggasari mengatakan perilaku konsumtif adalah tindakan membeli barang- barang
yag kurang atau tidak diperhitungkan sehingga sifatnya berlebihan.[6]
Dari uraian di atas, pengertian perilaku konsumtif merupakan suatu perilaku
membeli dan menggunakan barang yang tidak didasarkan pada pertimbangan yang
rasional dan memiliki kencenderungan untuk mengkonsumsi sesuatu tanpa batas
dimana individu lebih mementingkan faktor keinginan dari pada kebutuhan serta
ditandai oleh adanya kehidupan mewah dan berlebihan, pengunaan segala hal yang
paling mewah yang memberikan kepuasan dan kenyamanan fisik.
B. Penyebab perilaku konsumtif dan cara mengatasinya
Manusia sebagai makhluk ekonomi memiliki beberapa gaya konsumtif dikarenakan
adanya faktor-faktor yang mempengaruhinya, berikut beberapa faktor yang
mempengaruhi masyarakat sehingga berprilaku konsumtif: berikut ini adalah
faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang berperilaku konsumtif:[7]
a.
Faktor Internal
Faktor internal yang berpengaruh pada perilaku konsumtif individu
adalah motivasi, harga diri, observasi, proses belajar, kepribadian dan konsep
diri.
b.
Faktor
Eksternal
Faktor eksternal yang berpengaruh pada perilaku konsumtif individu
adalah kebudayaaan, kelas sosial, kelompok- kelompok sosial dan referensi serta
keluarga.
C. Dalil tentang perilaku konsumtif
Konsumsi adalah suatu kegiatan penggunaan dan
pemanfaatan sumber daya atau barang- barang yang ada atau memanfaatkan anugrah
yang telah diberikan Allah kepada manusia. Dalam
melakukan konsumsi manusia diberi kebebasan, namun kebebasan itu juga memiliki aturan-
aturan yang telah ditetapkan dalam ajaran Islam. Di
dalam agama Islam segala perilaku manusia telah diatur dalam Al-Qur’an
dan hadits yange bertujua supaya manusia tidak
terjerumus kedalam hal yang buruk dan merugikan. Al-Qur’an
dan hadist bersifat komprehensif dan universal, yang artinya mencakup segala
bentuk kehidupan baik sosial maupun spiritual dan juga dapat diterapkan setiap
waktu dan tempat.[8]
Dalam hal konsumtif pun, Islam
mengajarkan kepada kita agar sederhana,
tidak berlebihan, tidak boros, dan tidak kekurangan karena pemborosan adalah
saudara-saudara setan. Seperti yang tertera dalam Firman Allah SWT dibawah ini:
إِنَّ
الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ
لِرَبِّهِ كَفُورًا
Artinya :
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara- saudara syaitan dan syaitan
itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS.Al-Isro’
ayat 27)
Perilaku konsumtif merupakan masalah psikologis
yang dikenal dengan compulsive buying
disorder atau kecanduan belanja. penderitanya tidak dapat membedakan antara
kebutuhan dan juga keinginan. Dalam agama Islam dalam berkonsumsi diterangkan
bahwa yang barang yang baik haruslah halal, baik, bergizi, tidak kotor, tidak
mengandung riba dan lainnya. Sedangkan dalam
berkonsumsi tidak berlebih-lebihan, tidak juga bermewah-mewahan.[9]
رسول
ﷲ صلى ﷲ عليه وسلم يقول مأ ملأ آدمي لقيما ت يقمن صلبه فإن غلبت الآدمينفسه فثلث
للطعا م و ثلث للنفس .
Artinya:
Rasulullah SAW bersabda: “anak adam tidak
mengisi penuh wadah yang lebih jelek dari perut, cukuplah bagi merek itu
beberapa suap makan yang dapa menegakan punggungnya, apabila kuat keinginanya
maka jadikanlah sepertiga untuk makan, sepertiga untuk mium, sepertiga untuk
dirinya atau udara”[10]
Hadits tersebut
menjelaskan bahwa manusia harus memberi ruang dalam dirinya, tidak selalu harus
memenuhi segala keinginanya. Menurut Yusuf Qardawi menyebutkan beberapa
variabel moral konsumsi, diantaranya konsumsinitas alasan atas barang-barang
yang baik atau halal, berhemat dan tidak
bermewah-mewahan, menjauhi hutang, dan menjauhi kebakhilan.20 Yusuf
al-Qardawi berpendapat bahwa seorang muslim tidak bebas membelanjakan hartanya
secara berlebihan. Didalam Al-qur‟an dijelaskan tentang batasan-batasan perilaku
konsumtif yang tertera pada surat
al-Furqaan ayat 67.
وَالَّذِينَ إِذَا
أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
Artinya:
“Dan orang-orang yang apabila
membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan
adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian (al-Furqan ayat 67)
Dan juga
hadits riwayat muslim yang menjelaskan tentang konsumtif
.كثير من رة ذ ل مثقا قلبه في كان من الجنة لايدخل
Artinya: termasuk berlebihan adalah ketika kamu
makan semua yang kamu inginkan (HR. Imam Muslim)
Perilaku konsumtif selain dilarang oleh agama juga memiliki
beberapa dampak bagi pelakunya seperti:
a.
Menimbulkan
kecemburuan sosial antar masyarakat
b.
Membuat
keuangan semakin menipis
c.
Mempersempit
keinginn untuk menabung sehingga orang tidak berfikir akan masa depan
memikirkan masa yang akan datang
d.
Membuat
orang hanya meikirkan dirinya sendiri dan tidak melihat kehidupan orang lain
karena sibuk memikirkan keinginanya.
Yusuf al-Qardawi juga menjelaskan bahwa seseorang yang dekat dengan
agama maka seseorang tersebut dapat terhindar dari perilaku yang tercela
seperti salah satunya perilaku konsumtif.[11]
D. Teori masyarakat konsumtif yang digagas oleh JEAN BAUDRILLARD dan
Analisis fenomena masyarakat konsumtif
saat ini
1. RIWAYAT HIDUP JEANBAUDRILLARD
Jean Baudrillard
adalah seorang pakar dalam teori kebudayaan, beliau juga seorang filosof, komentator politik, sosiolog, dan
fotografer kali dikaitkan dengan
post modernisme dan post strukturalisme. Baudrillard lahir
dalam keluarga miskin di
Reims, 20 Juni
1929. Ia seorang anak
pegawai sipil dan
cucu lelaki dari seorang
petani. Ia mempelajari
Bahasa Jerman di Universitas Sorbonne
di Paris dan mengajar bahasa Jerman di sebuah licee
(1958-1966). Ia juga pernah menjadi penerjemah danterus melanjutkan
pendidikannya dalambidang
filsafat dan sosiologi.
Pada tahun 1966 ia menyelesaikan
tesis Ph.D-nya Le Systeme desobjets (“Sistem Objek-objek”) di bawah arahan
Henri Lefebvre. Dari tahun 1966
hingga 1972 ia bekerja
sebagai Asisten Profesor
dan Profesor. Pada tahun
1972 ia menyelesaikan habilitasinya L`Autre par
luimeme dan mulai mengajar sosiologi
di Universite de
Paris-X Nanterre sebagai professor.
Dari tahun
1986 hingga 1990
Baudrillard menjabat sebagai Direktur
Ilmiah di IRIS(Institut de Recherche et d`Information
Socio-Economique) di Universite
de Paris-IXDauphine. Ia tetap
memberikan dukungannya bagi Institut
de Recherche sur
I`Innovation Sociale di Center
National de la
Recherche Scientifique dan merupakan seorang satrap di College de
Pataphysique hingga meninggal dunia. Beliau
wafat di Paris,
6 Maret 2007.[12]
Dalam hal pemikirannya, ia dipengaruhi oleh Marshall Mc Luhan
yang memperlihatkan pentingnya media
massa dalam pandangankaum
sosiologis. Karena dipengaruhi
oleh semangat pemberontakan mahasiswa
di Universitas Nanterre (1968),
ia bekerja samadengan
suatu jurnal yaitu Utopie,
yangdipengaruhi oleh anarcho-situationism, teorimedia
dan Marxisme struktural,
di mana ia menerbitkan sejumlah
artikel teoritis pada suasana
kemakmuran kapitalis, dan
kritik teknologi.
Pemikiran Baudrillard
juga di pengaruhi oleh pemikiran filsuf lain yang memiliki
pemikiran tentang objectivity and linguistic-sociologicalinterface (Mauss), Surrealism and
Eroticism (Bataille), Psychoanalysis dan
Freud, dan terutama Marxisme.
Lalu ia menjadi
seorangyang dikagumi sebagai
seorang yangmengerti akan
keadaan yang datang
padakondisi posmodernisme.Filosofi Baudrillard terpusat pada dua
konsep“hyperreality” dan “simulation“.
Terminologiini mengacu pada alam yang
tidak nyata dankhayal dalam
kebudayaan kontemporer padazaman
komunikasi & informasi
massa.[13]
2. TEORI SIMULAKRUM, HIPEREALITAS,DAN SEMIOTIKA
Konsep Baudrillard mengenai simulasi
adalah tentang penciptaan kenyataan
melalui model konseptual atau sesuatu
yang berhubungan dengan “mitos”
yang tidak dapat
dilihat kebenarannya dalam kenyataan. Model ini menjadi
faktor penentu pandangan
kita tentang kenyataan. Segala
yang dapat menarik minat manusia
– seperti seni, rumah, kebutuhan
rumah tangga dan lain sebagainya– ditayangkan melalui berbagai media dengan model-model
yang ideal, di sinilah
batas antara simulasi
dan kenyataan menjad itercampur aduk sehingga
menciptakan hyperreality
di mana yang nyata
dan yang tidak nyata menjadi tidak jelas.
Dunia
menurut Baudrillard, didominasi
oleh “simulacrum”. Ini
adalah konsep yang diperkenalkan Jean Baudrillard
yang mewakili tiadanya
lagi batas antara
yang nyata dengan
yang semu. Dunia telah menjadi dunia imajiner. Baudrillard
memberikan contoh Disneyland.
Disneyland adalah suatu dunia imajiner di mana
segala sesuatunya bersifat
futuristik, dan mimpi-mimpi. Disneyland telah menjadi
bius bagi sebagian besar
konsumen kelas menengah
sehingga selalu
dijejali orang sepanjang tahunnya .
Disneyland
menurut Baudrillard merupakan bentuk pemujaan berhala mutakhir. Pemujaan yang
menunjukkan betapa irasionalnya perilaku konsumtif orang-orang
yang rela mengantri
berjam-jam, membayar puluhan dollar hanya untuk
memuaskan nafsu, insting,
dorongan dan impuls.
Kolektivitas yang muncul
adalah semu. Segerombolan orang riang gembira
menikmati kebersamaan mereka. Kemudian kembali
terpecah menjadi individu-individu
yang menjemukan denganr utinitas yang itu-itu
saja. Ini adalah
sebuah simulakrum.[14]
Jean
Baudrilard menggunakan juga
istilah hiperialitas untuk
menjelaskan perekayasaan (dalam
pengertian distorsi) makna
di dalam media. Hiperealitas
komunikasi, media dan makna menciptakan satu kondisi,
di mana kesemuanya dianggap
lebih nyata dar pada kenyataan, dan
kepalsuan dianggap lebih benar dari pada
kebenaran. Isu lebih di percaya ketimbang
informasi, rumor dianggap
lebih benar
ketimbang kebenaran. Kita tidak dapat lagi
membedakan antara kebenaran
dan kepalsuan, antara
isu dan realitas. Berkembangnya
hiperealitas komunikasi dan media tidak terlepas
dari perkembangan teknologi
yang telah berkembang
mencapai teknologi
simulasi.[15]
3. SEMIOTIKA & HIPERSEMIOTIKA
Ada
terminologi lain yang sangat
berkaitan dengan
simulacrum ataupun hyperealitas yaitu yang disebut dengan
semiotika. Semiotika (semiotics) adalah salah
satu dari ilmu
yang oleh beberapa
ahli atau pemikir dikaitkan dengan
kedustaan, kebohongan, dan kepalsuan, sebuah teori
dusta. Jadi, ada asumsi terhadap teori dusta ini serta beberapa teori
lainnya yang sejenis,
yang dijadikan sebagai
titik berangkat dari
sebuah kecenderungan semiotika,
yang kemudian disebut
juga sebagai hipersemiotika (hyper-semiotics).
Dalam
semiotika, bila segala
sesuatu yang dalam
terminologi semiotika
disebut sebagai tanda
(sign), semata alat
untuk berdusta, maka
setiap tanda akan
selalu mengandungmuatan dusta;
setiap makna (meaning) adalah dusta;
setiap pengguna tanda
adalah para pendusta;
setiap proses pertandaan (signification)
adalah kedustaan. Dunia hipersemiotika tidak dapat
dipisahkan dari dunia
hiperealitas yang dilukiskan
oleh Baudrillard.
Hiperealitas menciptakan
satu kondisi yang di
dalamnya kepalsuan berbaur
dengan keaslian; masa lalu
berbaur masa kini;
fakta bersimpang siur dengan
rekayasa; tanda melebur
dengan realitas; dusta
bersenyawa dengan kebenaran. Kategori-kategori kebenaran, kepalsuan,
keaslian, isu-isu, realitas seakan-akan
tidak berlaku lagi
didalam dunia seperti itu.“Baudrillard
menerima konsekuensi radikal tentang yang
dilihatnya sebagai sangat merasuknya kode dalam
masa modern akhir. Kode ini
jelas terkait dengan
komputerisasi dan
digitalisasi, juga cukup mendasar dalamFisika, Biologi, dan ilmu-ilmu alam
lainnya dimana ia memberi
kesempatan berlangsungnya
reproduksi sempurna dari suatu objek atau situasi.
Inilah sebabnya kode bisa mem-bypass sesuatu yang
real dan membuka kesempatan
bagi munculnya realitas yang
disebut Baudrillard sebagai hyperreality.”Keadaan dari
hiperrealitas ini membuat masyarakat modern
ini menjadi berlebihan dalam pola
mengkonsumsi sesuatu yang tidak
jelas esensinya. Kebanyakan
dari masyarakat ini mengkonsumsi
bukan karena kebutuhan ekonominya
melainkan karena pengaruh model-model
dari simulasi yangmenyebabkan gaya
hidup masyarakatmenjadi berbeda.
Mereka jadi lebih concern dengan gaya hidupnya dan nilai
yang mereka junjung tinggi.
Industri mendominasi
banyak aspek kehidupan, industri
tersebut menghasilkan banyak sekali
produk-produk mulai dari kebutuhan primer,
sekunder, sampai tertier. Ditemani oleh kekuatan
semiotika dan simulasi membuat
distribusi periklanan produk menjadi
lebih gencar tambah
lagi teknologi informasi yang
memungkinkan pihak pengusaha untuk
mendapatkan informasi
seperti apakah masyarakat
yang dihadapi, dan pihak konsumen
mendapatkan informasi tentang kebutuhan
yang merekatidak butuhkan, tetapi mereka
inginkan. Asumsi-asumsi yang terbentuk
dalampemikiran manusia dan
keinginan ini membuat manusia
tidak bisa lepas
dari keadaan hiperrealitas ini.
4.
TEORI SIMULAKRUM DAN INFORMASI
Dalam buku
Perpustakaan dan informasi dalam konteks
budaya tersebut dijelaskan bahwa adanya
hubungan yang sangat
erat antara simbol, data,
informasi, pengetahuan, dan kebijaksanaan. Hubungan
tersebut bersifat hirarki. Informasi
merupakan kumpulan data terpilih,
terorganisasi,
danteranalisis, merupakan hasil
pengolahan data serta memberikan
makna di dalamnya.
Informasi yang
dikombinasikan dengan
kemampuan dan pengalaman
pemakai serta digunakan untuk
memecahkan sebuah masalah atau
menciptakan pengetahuan baru, hasil
informasi yang diserap
serta menyebabkan perubahan disebut pengetahuan. Kemudian,
kebijaksanaan (wisdom)
seseorang akan memandang
kedepan dan berpikir
berlandaskan nilai dan komitmen
seseorang.[16]
Jika kita melihat bahwa hubungan
dan hirarki informasi ini saling
terkait satu sama
lain yang pada akhirnya
membentuk suatu
kebijaksanaan. Kebijaksanaan tentu
saja didasarkan pada nilai-nilai
kebenaran. Jika informasi yang
dihasilkan merupakan
informasi semu, maka
akan menghasilkan
pengetahuan yang semu
pula. Jika pengetahuan yang
diproduksi merupakan
pengetahuan yang semu,
maka akan menyebabkan kebijaksanaan
yang semu. Initentu
sangat berbahaya. Tidak
akan ada lagi kebenaran yang sebenarnya (hakiki).
Simulakrum informasi
yang berlangsung dalam waktu
yang lama hanya
akan menimbulkan ketidak
percayaan pada informasi itu
sendiri, bahkan pada
setiap informasi. Di dalam
situasi yang normal, informasi akan
membawa kita pada kebenaran, pada kenyataan. Akan tetapi,
kini, melalui mesin-mesin simulakra,
informasi justru menggiring masyarakat
ke arah ketidakpastian dan chaos.
Di antara berbagai krisis kepercayaan
yang muncul akhir-akhir ini salah
satunya yang sangat
menonjola dalah krisis kepercayaan terhadap informasi. Informasi kehilangan
kredibilitas disebabkan ia dianggap
tidak lagi mengungkapkan kebenaran.
Angka-angka statistic pertumbuhan, nilai
tukar, inflasi, GNP, pendapatan perkapita
yang hanya dianggap sebagai topeng-topeng
kesemuan yang tidak menggambarkan wajah
kita yang sesungguhnya. Hilangnya
kepercayaan terhadap informasi disebabkan
adanya anggapan, bahwa informasi
tersebut tidak lebih dari sebuah
hasil rekayasa, sebuah hasildistorsi tekstual.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Sejak
dulu hingga sekarang perilaku konsumtif sudah menjadi hal yang melekat pada
diri manusia. Itu sudah tidak dapat dipungkiri lagi. Sehubung dengan
perkembangan zaman melalui teknologi membuat para konsumtif semakin menjadi
jadi.Banyak penyebab yang membuat masyarakat berprilaku konsumtif mulai dari
faktor eksternal sampai faktor internal. Perilaku konsumtif harus kita mulai dari diri sendiri yaitu
sadar betapa ruginya jika kita memiliki prilaku konsumtif.
Banyak
kerugian yang kita dapat apabila kita selalu menanamkan prilaku konsumtif pada
diri kita. Hanya karna suatu keinginan, nafsu kita buang sia-sia. Dalam
Islam prilaku konsumtif dilarang banyak
dalil dan hadis yang memerintahkan agar kita tidak berbuat sesuatu yang
berlebih-lebihan apapun bentuknya. Salah satu dalil yang melarang kita
berprilaku konsumtif yaitu QS.Al-Isro’
ayat 27. Allah swt berfirman:
إِنَّ
الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ
لِرَبِّهِ كَفُورًا
Artinya :
Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara- saudara syaitan dan syaitan
itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS.Al-Isro’
ayat 27)
Dan Rasulullah saw
juga bersabda:
رسول
ﷲ صلى ﷲ عليه وسلم يقول مأ ملأ آدمي لقيما ت يقمن صلبه فإن غلبت الآدمينفسه فثلث
للطعا م و ثلث للنفس .
Artinya:
Rasulullah SAW bersabda: “anak adam tidak
mengisi penuh wadah yang lebih jelek dari perut, cukuplah bagi merek itu
beberapa suap makan yang dapa menegakan punggungnya, apabila kuat keinginanya
maka jadikanlah sepertiga untuk makan, sepertiga untuk mium, sepertiga untuk
dirinya atau udara”
JEAN BAUDRILLARD membahas teori mengenai perilaku
konsumtif. Ada beberapa teori yang ia bahas Teori Simulakrum, Hiperealitas, Dan Semiotika , Semiotika & Hipersemiotika , Teori Simulakrum Dan Informasi. Salah satu
contoh yang saya ambil dalam makalah ini adalah Disneyland. Dari sinilah kita bisa memiliki pandangan apa
yang seharusnya kita lakukan mulai saat ini.
DAFTAR PUSTAKA
Adian, D. G. (2002). Menyoal Objektivisme
IlmuPengetahuan. Jakarta: Teraju
Anggasari R.E. Hubungan tingkat Religiusitas dengan Perilaku Konsumtif. Jurnal Psikologi no.4 th II
Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.
Aprillins. Jean
BaudrillardTentang Simulacra dan
Hiperrealitas.http://aprillins.com.
Retrieved November 8, 2014,
fromhttp://aprillins.com/2009/577/jean-baudrillard-tentang-simulacra-dan-hiperrealitas/
Basuki, Sulistyo. (2006).
Perpustakaan &Informasi dalam
Konteks Budaya. Depok:FIB UI.
Baudrillard, Jean. www.wikipedia.org. Retrieved November
8, 2014, fromhttp://en.wikipedia.org/wiki/Jean_Baudrillard
Butarbutar, Sam Oliver 2008. Perbedaan Perilaku Konsumtif Mahasiswa yang Berkepribadian Introvet
dengan Mahasiswa Berkepribadian Ekstrovert, Fakultas psikologi, UGM.
Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa
Indonesia Pusat Bahasa. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Martin, Garry. Joseph Pear, Modifikasi Perilaku, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Muhammad Ismail Yusanto dan Muhammad
Karebet Widjaja kusuma. 2002. Menggagas Bisnis Islami, Gema Nusantara, Jakarata.
Mukhtarom, Imam.
Pemahaman Yusuf Al-Qardawi Terhadap Hadis- hadis tentang Perilaku konsumtif,
skripsi. jurusan Ilmu Al-Qur‟an dan Tafsir Universitas
Islam Negeri Sunan Klaijaga.
Mukhtarom, Imam. Pemahaman Yusuf Al-Qardawi Terhadap
Hadis-hadis tentang Perilaku konsumtif, skrips. jurusan Ilmu Al-Qur‟an dan Tafsir Universitas
Islam Negeri Sunan Klaijaga.
Nurdiana, Ilfi. M.Si.
Hadits-hdaits
Ekonomi. UIN Malang Press, Malang.
Piliang,
Y. A. 2001. Sebuah Dunia yangMenakutkan. Bandung: Mizan.
Qardawi,Yusuf .1995.Peran Nilai Moral dalam Perekonomian Islam. Rabbani Press. Jakarta.
Sumartono. 2002. Terperangkap Dalam Iklan, Alfabeta. Bandung.
Yustisi Sari, Tiuma. 2009 Hubungan Antara
Perilaku Konsumtif dengan Body Image pada Remaja Putri, Fakultas Psikologi UGM .
[1]
Garry Martin, Joseph Pear, Modifikasi
Perilaku, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2015, hlm. 3
[2]
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus
Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta,
2008, hlm 278.
[3]
Muhammad Ismail Yusanto dan Muhammad Karebet Widjaja kusuma, Menggagas Bisnis Islami, Gema Nusantara,
Jakarata, 2002, hlm 58.
[4]
Sam Oliver Butarbutar, Perbedaan Perilaku
Konsumtif Mahasiswa yang Berkepribadian Introvet dengan Mahasiswa
Berkepribadian Ekstrovert, Fakultas psikologi, UGM 2008, hlm 15.
[5]
Tiuma Yustisi Sari, Hubungan Antara
Perilaku Konsumtif dengan Body Image pada Remaja Putri, Fakultas Psikologi
UGM 2009, hlm 21.
[6]
Anggasari R.E, Hubungan tingkat
Religiusitas dengan Perilaku Konsumtif. Jurnal Psikologi no.4 th II
Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM, hlm 10.
[7]
Sumartono, Terperangkap Dalam Iklan, Alfabeta,
Bandung, 2002, hlm 63.
[8]
Imam Mukhtarom, Pemahaman Yusuf Al-Qardawi Terhadap Hadis-hadis tentang
Perilaku konsumtif, skripsi, jurusan Ilmu Al-Qur‟an dan Tafsir Universitas
Islam Negeri Sunan Klaijaga, hlm 71
[9]
Ibid. hlm 71
[10]
Ilfi Nurdiana, M.Si, Hadits-hdaits
Ekonomi, UIN Malang Press, Malang, 2008. hal. 59
20 Yusuf
Qardawi, Peran Nilai Moral dalam
Perekonomian Islam, Rabbani Press, Jakarta, 1995, hlm 3.
[11]
Imam Mukhtarom, Pemahaman Yusuf Al-Qardawi Terhadap Hadis- hadis tentang Perilaku
konsumtif, skripsi, jurusan Ilmu Al-Qur‟an dan Tafsir Universitas
Islam Negeri Sunan Klaijaga, hlm. 54
[12]Jean
Baudrillard,
www.wikipedia.org. Retrieved November
8, 2014, from http://en.wikipedia.org/wiki/Jean_Baudrillard
[13] Aprillins,
(2009, May 10).
Jean BaudrillardTentang Simulacra
dan
Hiperrealitas.http://aprillins.com.
Retrieved November 8, 2014,
fromhttp://aprillins.com/2009/577/jean-baudrillard-tentang-simulacra-dan-hiperrealitas/
[14] D. G. Menyoal Adian, Objektivisme IlmuPengetahuan, (Jakarta: Teraju, 2002), hlm 15-16
[15] Y. A. Piliang, Sebuah Dunia
yangMenakutkan, (Bandung: Mizan,2001), hlm 150
[16]
Sulistyo Basuki, Perpustakaan
&Informasi dalam Konteks Budaya, (Depok : FIB UI,
2006), hlm 6
Komentar
Posting Komentar